Roadmap Dekarbonisasi Diluncurkan, Gubernur Melki Optimistis NTT Jadi Pusat Energi Hijau Indonesia

Gubernur Melki Laka Lena Dorong NTT Capai Net Zero Emission 2050, Selasa (30/6). Foto : Dok. Redaksi

LIPUTAN TIMOR, KOTA KUPANG - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memperkuat komitmennya menuju pembangunan rendah karbon dengan mendorong penyusunan Roadmap Dekarbonisasi Sektor Ketenagalistrikan sebagai langkah strategis menuju target Net Zero Emission (NZE) 2050.

Komitmen tersebut disampaikan Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, saat menghadiri Kickoff Meeting Studi Roadmap Dekarbonisasi Sektor Ketenagalistrikan NTT Menuju Net Zero Emission 2050 yang diselenggarakan Institute for Essential Services Reform (IESR) di Hotel Aston Kupang, Selasa (30/6/2026).

Menurut Melki, dampak perubahan iklim semakin nyata dirasakan masyarakat NTT. Kekeringan yang berkepanjangan, perubahan pola musim, ancaman terhadap sektor pertanian dan perikanan, hingga meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi menjadi alasan penting bagi pemerintah untuk mempercepat pembangunan yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.

"Perubahan iklim telah menjadi tantangan global yang dampaknya semakin nyata kita rasakan di seluruh wilayah NTT. Karena itu, pembangunan ke depan harus memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan," kata Melki.

Di sisi lain, ia menilai kebutuhan energi di NTT akan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi, pengembangan kawasan industri, sektor pariwisata, hilirisasi sumber daya alam, serta meningkatnya kualitas hidup masyarakat.

Karena itu, tantangan utama pemerintah bukan hanya memenuhi kebutuhan listrik yang terus bertambah, tetapi juga memastikan sistem ketenagalistrikan yang dibangun tetap andal dan rendah emisi karbon.

"Target kita adalah memastikan peningkatan kebutuhan energi dapat dipenuhi melalui sistem ketenagalistrikan yang andal sekaligus rendah emisi karbon," ujarnya.

Melki menegaskan Pemerintah Provinsi NTT telah menetapkan visi NTT Net Zero Emission 2050 sebagai bagian dari komitmen pembangunan hijau dan berketahanan iklim. 

Penyusunan roadmap dekarbonisasi, menurutnya, harus mampu memetakan kondisi kelistrikan saat ini, proyeksi kebutuhan listrik, potensi energi terbarukan, hingga strategi implementasi yang realistis sesuai karakteristik wilayah kepulauan.

Ia juga menyoroti besarnya potensi energi baru terbarukan (EBT) yang dimiliki NTT, mulai dari tenaga surya, air, angin hingga panas bumi. 

Salah satu contoh keberhasilan adalah Pulau Sumba melalui program Sumba Iconic Island yang dinilai berhasil menunjukkan pemanfaatan energi bersih sebagai penggerak pembangunan daerah.

Menurut Melki, potensi tersebut harus dioptimalkan untuk memperluas akses listrik berkualitas, menarik investasi hijau, membuka lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah, sekaligus memperkuat ketahanan energi di wilayah kepulauan.

Sementara itu, Manager Program NTT NZE 2025 IESR, Muhammad Maghribul Falah, mengatakan hasil kajian lembaganya menunjukkan NTT memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar. 

Potensi tenaga surya diperkirakan mencapai lebih dari 338 gigawatt peak (GWp), sedangkan potensi tenaga angin melebihi 20 gigawatt (GW).

Menurutnya, besarnya potensi tersebut menjadi modal utama bagi NTT untuk mempercepat transisi energi sekaligus mewujudkan target Net Zero Emission pada 2050.

Pemerintah Provinsi NTT berharap roadmap yang tengah disusun tidak hanya menjadi acuan kebijakan sektor ketenagalistrikan, tetapi juga menjadi instrumen untuk mempercepat investasi energi bersih, meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan hingga ke pulau-pulau kecil, serta memperkuat daya saing ekonomi daerah menuju pembangunan yang hijau, tangguh, dan berkelanjutan. (Red)

Next Post Previous Post