Program LENTERA 2026 Ditutup di Kupang, Komdigi Dorong Penguatan Talenta Fiber Optik

Komdigi Tutup LENTERA 2026 di Kupang, Fokus Restorasi Infrastruktur Digital Pascabencana.

LIPUTAN TIMOR, KUPANG - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital dan Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) resmi menutup Program Talenta Fiber Optik Nusantara (LENTERA) 2026 di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Kamis (20/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 19-20 Agustus 2026, tersebut digelar di Aula Gelanggang Olahraga Komitmen Desa Oelnasi, Kabupaten Kupang.

Penutupan kegiatan dilakukan oleh Staf Ahli Menteri Bidang Sosial, Ekonomi, dan Budaya Kementerian Komdigi, Raden Wijayakusuma Wardhana.

Program LENTERA 2026 mengusung tema "Restorasi Infrastruktur akibat Bencana". Pelatihan tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia dalam melakukan pemulihan dan perbaikan infrastruktur jaringan fiber optik, khususnya ketika terjadi gangguan akibat bencana.

Dalam sambutannya, Raden Wijayakusuma terlebih dahulu menyampaikan duka cita atas musibah yang terjadi di Flores, Nusa Tenggara Timur.

"Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas musibah yang terjadi di Flores, Nusa Tenggara Timur. Semoga keluarga dan saudara-saudara yang berada di sana diberikan kekuatan dan ketabahan," ujarnya.

Ia berharap masyarakat yang terdampak bencana dapat segera memperoleh pemulihan sehingga bisa kembali menjalankan aktivitas seperti sediakala.

Tiga Pilar Kebijakan Transformasi Digital

Raden menjelaskan, kebijakan transformasi digital Kementerian Komdigi bertumpu pada tiga pilar utama, yakni terhubung, tumbuh, dan terjaga.

Menurut dia, Program LENTERA yang memberikan pelatihan fiber optik untuk kebutuhan restorasi infrastruktur digital merupakan bagian dari upaya memperkuat pilar terhubung.

"Pertama adalah pilar terhubung, kedua pilar tumbuh, dan ketiga pilar terjaga. Kegiatan LENTERA atau pelatihan fiber optik untuk restorasi infrastruktur digital merupakan bagian dari kebijakan pilar terhubung," katanya.

Ia mengatakan, secara umum penetrasi internet di Indonesia saat ini sudah cukup tinggi. Namun, tingkat penetrasi tersebut masih berbeda-beda antarwilayah.

"Kalau kita lihat di wilayah Pulau Bali dan Nusa Tenggara secara umum sekitar 71 persen, di Sumatera 77 persen, dan di wilayah lain bahkan ada yang belum sampai 70 persen," ujarnya.

Menurut Raden, penetrasi internet di kawasan Nusa Tenggara tidak lagi terlalu tertinggal dibandingkan wilayah lain. Meski demikian, kontribusi masyarakat terhadap pemanfaatan akses internet masih perlu terus ditingkatkan.

Internet Harus Beri Nilai Tambah Ekonomi

Raden menegaskan, penguatan talenta fiber optik tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan teknis dalam membangun dan memulihkan jaringan.

Pelatihan tersebut juga diharapkan dapat mendorong peningkatan nilai dan kontribusi masyarakat setelah tersedianya infrastruktur digital.

"Bagaimana kita memanfaatkan jaringan akses internet menjadi nilai tambah bagi peningkatan, apa itu pertumbuhan ekonomi di dalam wilayahnya," ucapnya.

Ia menilai, tersedianya jaringan internet harus diikuti dengan kemampuan masyarakat untuk memanfaatkannya secara produktif. Dengan demikian, pembangunan infrastruktur digital tidak berhenti pada peningkatan konektivitas, tetapi juga memberikan dampak terhadap aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Melalui Program LENTERA 2026, pemerintah berharap semakin banyak tenaga terampil yang mampu mendukung pembangunan sekaligus pemulihan infrastruktur fiber optik di berbagai wilayah Indonesia, termasuk daerah yang memiliki risiko bencana.

Penutupan program di Kabupaten Kupang sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan sumber daya manusia dalam menjaga keberlanjutan konektivitas digital di tengah kebutuhan internet yang terus meningkat. (Ferdi Tanesib)

Berikut Sebelumnya